歌詞
Tempat untuk Pulang
Trauma, Kesepian, dan Pencarian Jati Diri.
Kawaki Remaja yang sinis, waspada, dan selalu merasa dirinya hanya "wadah" tanpa keluarga.
* **Uzumaki Naruto:** Hokage Ketujuh. Sosok pria yang hangat, sabar, dan sangat memahami bagaimana rasanya sendirian.
* **Uzumaki Boruto:** Anak Naruto. Keras kepala, sering bertengkar dengan Kawaki, namun diam-diam peduli.
Teras belakang rumah keluarga Uzumaki. Malam hari yang dingin. Langit penuh bintang, dan hanya terdengar suara jangkrik.
**Kawaki:** *(Bicara sendiri dengan nada getir)* "Keluarga... Teman... Cih. Kata-kata omong kosong macam apa itu? Pada akhirnya, aku cuma alat. Aku tida punya siapa-siapa. Dulu, sekarang, atau besok... semuanya sama saja."
*(Terdengar suara pintu geser terbuka. Naruto melangkah keluar membawa dua cangkir teh hangat. Dia tersenyum kecil melihat Kawaki yang buru-buru menurunkan tangannya dan memasang wajah garang.)*
**Naruto:** "Udaranya cukup dingin malam ini. Tida baik duduk melamun di luar tanpa jaket, Kawaki."
*(Menyodorkan secangkir teh kepada Kawaki)* "Ini, minumlah. Hinata yang menyeduhnya."
**Kawaki:** *(Menatap cangkir itu ragu, lalu memalingkan wajah)* "Aku tidak minta. Lagipula, kenapa kau terus-terusan mengurusiku? Aku ini orang asing. Orang luar."
**Naruto:** *(Tertawa kecil, lalu duduk di sebelah Kawaki. Ia menatap langit malam)* "Di rumah ini, tida ada yang namanya 'orang asing'. Saat kau duduk di meja makan kami, kau bagian dari kami."
**Kawaki:** *(Mengepalkan tangan, nada suaranya meninggi menahan emosi)* "Kau tidak mengerti, Hokage! Kau orang hebat, dikelilingi banyak orang yang mencintaimu! Aku? Aku ini tida punya siapa-siapa! Orang tuaku menjualku! Jigen hanya memanfaatkanku! Aku ini tidak ada harganya selain menjadi wadah monster!"
*(Keheningan sejenak. Angin malam berhembus. Naruto tidak marah, matanya justru menatap Kawaki dengan penuh kelembutan yang menyedihkan.)*
**Naruto:** "Siapa bilang aku tidak mengerti?"
*(Kawaki menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Naruto yang sangat tenang.)*
**Naruto:** "Dulu... di desa ini, orang-orang menatapku seperti melihat wabah penyakit. Aku yatim piatu. Aku tida punya ayah, tida punya ibu, tida punya teman. Aku sering duduk sendirian di ayunan tua, melihat anak-anak lain dijemput orang tuanya sambil tertawa. Aku tau persis bagaimana rasanya dadamu sesak karena kau merasa dunia tida menginginkanmu."
**Kawaki:** *(Gumam, matanya sedikit melebar)* "Kau... juga?"
**Naruto:** *(Tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut Kawaki)* "Itu sebabnya aku tida akan membiarkanmu sendirian, bodoh. Kau tida perlu punya siapa-siapa di masa lalu. Tapi mulai sekarang, kau punya tempat untuk pulang. Kau punya kami."
**Boruto:** "Oi! Kalian berdua berisik sekali! Aku tidak bisa tidur tau!"
*(Boruto berjalan mendekat, lalu menyodorkan piring ke arah Kawaki dengan wajah cemberut)* "Ini. Ibu bilang kau belum makan camilan malammu. Jangan sampai kau mati kelaparan dan merepotkan ayahku."
**Kawaki:*
Trauma, Kesepian, dan Pencarian Jati Diri.
Kawaki Remaja yang sinis, waspada, dan selalu merasa dirinya hanya "wadah" tanpa keluarga.
* **Uzumaki Naruto:** Hokage Ketujuh. Sosok pria yang hangat, sabar, dan sangat memahami bagaimana rasanya sendirian.
* **Uzumaki Boruto:** Anak Naruto. Keras kepala, sering bertengkar dengan Kawaki, namun diam-diam peduli.
Teras belakang rumah keluarga Uzumaki. Malam hari yang dingin. Langit penuh bintang, dan hanya terdengar suara jangkrik.
**Kawaki:** *(Bicara sendiri dengan nada getir)* "Keluarga... Teman... Cih. Kata-kata omong kosong macam apa itu? Pada akhirnya, aku cuma alat. Aku tida punya siapa-siapa. Dulu, sekarang, atau besok... semuanya sama saja."
*(Terdengar suara pintu geser terbuka. Naruto melangkah keluar membawa dua cangkir teh hangat. Dia tersenyum kecil melihat Kawaki yang buru-buru menurunkan tangannya dan memasang wajah garang.)*
**Naruto:** "Udaranya cukup dingin malam ini. Tida baik duduk melamun di luar tanpa jaket, Kawaki."
*(Menyodorkan secangkir teh kepada Kawaki)* "Ini, minumlah. Hinata yang menyeduhnya."
**Kawaki:** *(Menatap cangkir itu ragu, lalu memalingkan wajah)* "Aku tidak minta. Lagipula, kenapa kau terus-terusan mengurusiku? Aku ini orang asing. Orang luar."
**Naruto:** *(Tertawa kecil, lalu duduk di sebelah Kawaki. Ia menatap langit malam)* "Di rumah ini, tida ada yang namanya 'orang asing'. Saat kau duduk di meja makan kami, kau bagian dari kami."
**Kawaki:** *(Mengepalkan tangan, nada suaranya meninggi menahan emosi)* "Kau tidak mengerti, Hokage! Kau orang hebat, dikelilingi banyak orang yang mencintaimu! Aku? Aku ini tida punya siapa-siapa! Orang tuaku menjualku! Jigen hanya memanfaatkanku! Aku ini tidak ada harganya selain menjadi wadah monster!"
*(Keheningan sejenak. Angin malam berhembus. Naruto tidak marah, matanya justru menatap Kawaki dengan penuh kelembutan yang menyedihkan.)*
**Naruto:** "Siapa bilang aku tidak mengerti?"
*(Kawaki menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Naruto yang sangat tenang.)*
**Naruto:** "Dulu... di desa ini, orang-orang menatapku seperti melihat wabah penyakit. Aku yatim piatu. Aku tida punya ayah, tida punya ibu, tida punya teman. Aku sering duduk sendirian di ayunan tua, melihat anak-anak lain dijemput orang tuanya sambil tertawa. Aku tau persis bagaimana rasanya dadamu sesak karena kau merasa dunia tida menginginkanmu."
**Kawaki:** *(Gumam, matanya sedikit melebar)* "Kau... juga?"
**Naruto:** *(Tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut Kawaki)* "Itu sebabnya aku tida akan membiarkanmu sendirian, bodoh. Kau tida perlu punya siapa-siapa di masa lalu. Tapi mulai sekarang, kau punya tempat untuk pulang. Kau punya kami."
**Boruto:** "Oi! Kalian berdua berisik sekali! Aku tidak bisa tidur tau!"
*(Boruto berjalan mendekat, lalu menyodorkan piring ke arah Kawaki dengan wajah cemberut)* "Ini. Ibu bilang kau belum makan camilan malammu. Jangan sampai kau mati kelaparan dan merepotkan ayahku."
**Kawaki:*